Kamis, 07 Agustus 2008

Tekanan Ekologi Lembah Sungai Tenayan yang Semangkin Mengkhawatirkan.

Chaidir P. Pulungan
Sungai Tenayan merupakan anak sungai Siak yang berada di wilayah kecamatan Tenayan Raya, kota madya Pekanbaru, Riau. Hulu sungai ini berada di wilayah kelurahan Kulim kecama tan Tenayan Raya. Sungai Tenayan ini memiliki beberapa cabang anak sungai di bagian hilir dekat kualanya terdapat anak sungai Tenayan, dibagian tengah terdapat sungai Penampungan dan di atasnya terdapat percabangan anak sungai yang dinamai singai Binjai.
Di sekitar aliran sungai hingga ke arah kuala terdapat kawasan rawa-rawa yang cukup luas tapi kini sebagian besar kawasan rawa-rawa ini telah mulai disulap menjadi lahan kebun kelapa sawit. Pada sebagian lahan itu telah dibangun kanal-kanal dan aliran sungai utamanya juga su dah diperlebar oleh si pengusaha si pemilik perkebunan tersebut. Demikian juga rawa-rawa di kawasan bagian hulunya yang terletak di sungai Binjai, oleh penduduk kawasan hutannya mulai disulap menjadi kebun kelapa sawit.
Sedangkan di bagian hulu sungai Binjai lainnya terutama di daerah Pebatuan banyak terdapat tempat pembuatan batu bata yang memanfaatkan tanah disekitarnya, bahkan ada juga yang diratakan untuk lahan komplek perumahan yang dikembangkan oleh developer.
Akibat tekanan ekologi yang begitu tinggi menyebabkan airnya yang terdapat di bagian hilir selalu menjadi keruh dan di badan sungai banyak terdapat batang dan ranting-ranting kayu dari hasil penebasan hutan di sekitar kawasan lembah tersebut. Kondisi demikian itu tentunya meng ganggu kehidupan biota yang terdapat di dalam, baik yang hidup di darat maupun di perairan.
Berdasarkan informasi dari beberapa orang penduduk yang menangkap ikan di aliran sungai Tenayan dan kawasan rawa-rawa tersebut bahwa jumlah ikan hasil tangkapan mereka sekarang ini sudah jauh berkurang jika dibandingkan 2 tahun yang lalu. Mereka menyatakan kehadiran saya untuk menginventarisasi jenis-jenis ikan yang ada di sungai dan rawa-rawa tersebut sudah terlambat.
Alat tangkap yang masih bertahan digunakan penduduk untuk menangkap ikan di kawasan sungai Tenayan itu hanya lukah. Dan jenis ikan yang paling mereka harapkan untuk tetangkap hanyalah jenis ikan lontok (Oxyeleotris marmorata) atau ikan betutu yang harga jualnya cukup tinggi. Tentunya mereka mengharapkan ikan yang tertangkap masih dalam keadaan hidup. Tetapi mereka sangat kecewa apabila jenis ikan yang tertangkap itu hanyalah ikan "indosiar" (Hyposarcus pardalis).
Penghuni kawasan sungai Tenayan ini yang masih ditakuti penduduk ketika mereka mencari ikan adalah sejenis hewan reptil yaitu buaya ikan/katak bahkan menurut penduduk yang berada di bagian hulu, hewan reptil ini juga ada di sungai Binjai. Pada hal anak sungai Siak yang berada di kawasan kota madya Pekanbaru ini cukup banyak yaitu sungai Sail, Teleju, Air Hitam, Ukai, Umban, Rumbai, Ambang, Senapelan, Sago dan Tenayan. Tetapi yang berpenghuni hewan buaya hanya di sungai Tenayan. Apakah karena di sungai ini masih banyak terdapat ikan dan udang serta memiliki rawa-rawa yang cukup luas. Hanya saja sampai kapankah mereka masih dapat bertahan di kawasan tersebut apabila kawasan tersebut sudah berubah. Apalagi rencana tata ruang kota di kawasan tersebut akan dijadikan sebagai kawasan industri.
Jenis ikan dari kawasan rawa-rawa yang masih dapat dijumpai adalah ikan kopar/selincah (Belontia hasselti), gabus (Channa striata), betok (Anabas testudineus), sepat rawa (Trichogas ter trichopterus), lele manik-manik (Clarias sp.), lele akar (Clarias sp.), dan situmbuk/tumbuk bani (Luciocephalus pulcher), Osteochilus spilurus, Puntius lineatus, Puntius johorensis, Rasbora toneri, Rasbora einthoveni, Rasbora trilineata, Sphaerichthys osphromoides dan Trichopsis vittata.

Tidak ada komentar: